Liburan Sekolah telah tiba, bagi yang banyak memiliki uang tentu tidak akan pusing mau pergi berlibur kemana, tapi bagi yang punya uang pas-pasan ini yang jadi masalah, tapi tidak usag bingung...masih banyak cara mengisi liburan panjang ini dengan ongkos murah dan edukatif buat si anak. Tidak ada salahnya liburan kali ini diisi dengan hal yang bermanfaat dan bisa sambil belajar. Contohnya dengan mengunjungi museum-museum atau taman-taman publik di sekitar
1. Museum Fatahillah yang juga dikenal
Bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Museum ini memiliki luas lebih dari 13.000 meter persegi. Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Fatahillah
2.
Museum Nasional dikenal
Jumlah koleksi pada museum ini dikenal sebagai yang terlengkap di Indonesia.Naskah-naskah tersebut dan koleksi perpustakaan Museum Gajah kini disimpan di Perpustakaan Nasional.
Koleksi keramik dan koleksi etnografi
Koleksi yang menarik adalah Patung Bhairawa patung yang tertinggi di Museum Nasional dengan tinggi 414 cm ini merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara atau Awalokiteswara, yang merupakan perwujudan Boddhisatwa (pancaran Buddha) di bumi. Dan pada 1996 pencurian lukisan yang bisa ditemukan kembali di Singapura.
3. Museum Wayang adalah sebuah museum yang berlokasi di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Jakarta Barat
Gedung yang tampak unik dan menarik ini telah beberapa kali mengalami perombakan. Pada awalnya bangunan ini bernama De Oude Hollandsche Kerk ("Gereja Lama Belanda") dan dibangun pertamakali pada tahun 1640.
Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Wayang
4. Museum Tekstil di Jl Aipda KS Tubun no 4, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Terdapat koleksi kain tenun, kain batik, peralatan dan koleksi campuran.
5. Museum Satria Mandala adalah museum sejarah perjuangan Tentara Nasional Indonesia yang terletak di Jalan Gatot Subroto,
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Satria_Mandala
6. Museum Bahari yang terletak berdekatan dengan pelabuhan Sunda Kelapa di kawasan Jakarta Kota, Jl Pasar Ikan 1 Jakarta Utara adalah museum yang menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
Disajikan pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Pada masa pendudukan Belanda bangunan yang saat ini dipergunakan untuk museum dulunya adalah gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa. Gudang barat terdiri dari empat unit bangunan, dan tiga unit di antaranya yang sekarang digunakan sebagai Museum Bahari.
Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. Tahun 1976 bangunan cagar budaya ini dipugar, dan kemudian pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Bahari
7. Museum Seni Rupa dan Keramik terletak di Jalan Pos Kota No 2, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta, Indonesia Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Sejarah Jakarta itu memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia.
Tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat dan baru setelah itu diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai Seni Rupa Jakarta.
Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI
Sedangkan koleksi keramik menampilkan keramik dari beberapa daerah
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Seni_Rupa_dan_Keramik
8. Museum Taman Prasasti Jl. Tanah Abang 1
Pada tanggal 9 Juli 1977 dijadikan museum dan dibuka untuk umum dengan koleksi prasasti, nisan dan makam sebanyak 1.372 yang terbuat dari batu dan perunggu.
Karena perkembangan
Waktu Buka: Museum buka Selasa - Minggu dari pukul 09.00 - 15.00 WIB. Senin dan Hari Besar tutup
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Prasasti
9. Gedung Joang '45 atau Museum Joang '45 adalah salah satu museum yang berada di
Gedung yang dibangun pada sekitar tahun 1920-an yang saat ini dipergunakan sebagai Museum Joang '45 ini pada mulanya adalah hotel yang dikelola oleh keluarga “L.C. Schomper”, seorang berkebangsaan Belanda yang sudah lama tinggal di Batavia. Bangunan kamar penginapan yang tersisa sat ini tinggal beberapa yang ada di sisi utara gedung utama, saat ini dipergunakan sebagai ruang Kafe dan kantor pengelola Museum Joang 45.
Ketika Jepang masuk ke
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Joang_%2745
10. Mesium Mandiri terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat dan merupakan salah satu bagian dari cagar budaya Kota Tua di Jakarta
Museum yang menempati area seluas 10.039 m2 ini pada awalnya adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan.
Kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) pada 31 Desember 1968, gedung tersebut pun beralih menjadi kantor pusat Bank Export import (Bank Exim), hingga akhirnya legal merger Bank Exim bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999), maka gedung tersebut pun menjadi asset Bank Mandiri.
Koleksi museum terdiri dari berbagai macam koleksi yang terkait dengan aktivitas perbankan "tempo doeloe" dan perkembangannya, koleksi yang dimiliki mulai dari perlengkapan operasional bank, surat berharga, mata uang kuno (numismatik), brandkast, dan lain-lain.
11. Museum Bank
Di mesium ini terdapat fakta dan benda sejarah dari masa jauh sebelum Bank
Jam bukanya adalah setiap hari Selasa - Jumat jam 08.30 - 14.30, hari Sabtu dan Minggu jam 09.00 - 16.00.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Bank_Indonesia
12. Gedung Mohammad Hoesni Thamrin adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang berada di Jalan Kenari II No. 15, Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi foto reproduksi, radio dan barang-barang milik, serta kepustakaan tentang kiprah perjuangan Mohammad Hoesni Thamrin dalam pergerakan nasional
Muhammad Hoesni Thamrin adalah anak wedana Tabri Thamrin yang pernah bekerja di kantor kepatihan Batavia serta menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat).
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Mohammad_Hoesni_Thamrin
13. Museum Sumpah Pemuda adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang berada di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat
Museum ini memiliki koleksi foto dan benda-benda yang berhubungan dengan sejarah Sumpah Pemuda 1928, serta kegiatan-kegiatan dalam pergerakan nasional
Sejak 1925 gedung Kramat 106 menjadi tempat tinggal pelajar yang tergabung dalam Jong Java. Anggota Jong Java dan mahasiswa lainnya menyebut gedung ini Langen Siswo.
Sejak 1926, penghuni gedung ini makin beragam. Kegiatan penghuni gedung itu juga makin beragam. Selain kesenian, mahasiswa di gedung ini aktif dalam kepanduan dan olahraga. Gedung ini juga menjadi markas Perhimpunan
Pada 1968, Sunario berprakarsa mengumpulkan pelaku sejarah Sumpah Pemuda, dan meminta kepada Gubernur DKI mengelola dan mengembalikan gedung di Kramat Raya 106 milik Sie Kong Liang yang telah berganti-ganti penyewa dan pemilik kepada bentuknya semula. Tempat ini disepakati menjadi Gedung Sumpah Pemuda, tetapi usulan mengganti nama jalan Kramat Raya menjadi jalan Sumpah Pemuda belum tercapai. Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemda DKI Jakarta, dan saat ini dikelola Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata

0 comments:
Poskan Komentar